Land Looters (2026)
Land Looters (2026) merupakan film dokumenter tentang perjuangan masyarakat mempertahankan tanah, hutan, dan cara hidup mereka ketika berhadapan dengan kepentingan perusahaan berskala besar. Dengan mengambil lokasi utama di Kamboja dan Kamerun, film ini menggabungkan perjalanan dokumenter dengan investigasi mengenai land grabbing, hak masyarakat adat, dan dampak perkebunan industri terhadap komunitas lokal.
nonton Land Looters (2026)
Land Looters (2026), atau Pilleurs de Terre, mengikuti perjalanan filmmaker Fanny Paloma ketika mendokumentasikan komunitas yang merasa tanah mereka terancam atau telah diambil alih oleh aktivitas perusahaan agroindustri. Perjalanan tersebut membawa film dari kawasan hutan di Asia menuju desa-desa di Afrika hingga akhirnya masuk ke ruang pengadilan di Prancis.
Alih-alih hanya menjelaskan persoalan melalui angka dan laporan, dokumenter ini memberikan ruang kepada masyarakat yang terdampak untuk menceritakan pengalaman mereka secara langsung. Hasilnya adalah film tentang tanah yang sekaligus membahas identitas, ingatan, keluarga, dan kemampuan sebuah komunitas mempertahankan masa depannya.
Komunitas Bunong Mempertahankan Hutan di Kamboja
Salah satu fokus utama Land Looters berada pada masyarakat adat Bunong di Kamboja. Bagi komunitas tersebut, hutan tidak hanya mempunyai nilai ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan sosial, tradisi, spiritualitas, dan hubungan antargenerasi.
Film mengikuti perjuangan mereka mempertahankan hutan sakral di tengah perubahan penggunaan lahan. Konflik tersebut memperlihatkan bagaimana ekspansi ekonomi dapat menghasilkan konsekuensi yang jauh lebih besar ketika tanah yang berubah fungsi merupakan bagian penting dari identitas sebuah komunitas.
Perlawanan Masyarakat di Kamerun
Bagian lain film membawa penonton ke Kamerun, tempat sejumlah desa menghadapi perkembangan perkebunan kelapa sawit. Dokumenter juga menyoroti masyarakat Bagyeli dan keluarga pedesaan yang mempertanyakan bagaimana aktivitas perusahaan memengaruhi akses terhadap wilayah yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Dengan menghubungkan Kamboja dan Kamerun, film menunjukkan bahwa persoalan perampasan atau penguasaan tanah bukan hanya konflik lokal. Pola serupa dapat muncul di wilayah yang berbeda ketika kepentingan bisnis bersinggungan dengan hak masyarakat yang telah lama tinggal di suatu kawasan.
Perjalanan Dokumenter Menuju Proses Hukum di Prancis
Land Looters tidak berhenti pada kehidupan komunitas di lapangan. Perjuangan tersebut kemudian bergerak menuju Prancis melalui proses hukum yang berkaitan dengan tanggung jawab perusahaan dan kewajiban untuk mencegah pelanggaran hak dalam jaringan bisnis mereka.
Perpindahan dari hutan menuju pengadilan memperluas cakupan dokumenter. Persoalan tanah yang awalnya terlihat jauh dari Eropa akhirnya terhubung dengan keputusan perusahaan, struktur kepemilikan, serta pertanyaan mengenai siapa yang harus bertanggung jawab ketika aktivitas bisnis berdampak pada masyarakat lokal.
Bolloré Menjadi Bagian Penting Investigasi
Dokumenter membahas komunitas yang menuduh perusahaan-perusahaan agroindustri yang terkait dengan grup Bolloré terlibat dalam penguasaan lahan yang merugikan mereka. Film mengikuti bagaimana tuntutan masyarakat berkembang dari perjuangan lokal menuju upaya mencari pertanggungjawaban melalui jalur hukum.
Karena Land Looters merupakan film investigatif, pembahasannya disampaikan dari perspektif komunitas, aktivis, dan pihak yang memperjuangkan hak atas tanah. Fokus utama film berada pada pengalaman masyarakat serta struktur ekonomi yang menurut mereka telah mengancam ruang hidup tradisional.
Dokumenter yang Menggabungkan Investigasi dan Travelogue
Land Looters tidak disusun seperti laporan jurnalistik konvensional. Film menggunakan pendekatan travelogue atau catatan perjalanan yang dipadukan dengan investigasi, sehingga penonton mengikuti langsung perpindahan filmmaker dari satu komunitas menuju komunitas lainnya.
Pendekatan tersebut memberi ruang untuk memperlihatkan hutan, desa, kehidupan sehari-hari, percakapan, dan hubungan masyarakat dengan lingkungan. Unsur visual dan pengalaman personal kemudian berjalan bersama pembahasan politik, ekonomi, serta hukum.
Fanny Paloma Menulis dan Menyutradarai Land Looters
Land Looters ditulis dan disutradarai Fanny Paloma, yang juga terlibat sebagai produser. Franck Lorrain dan Christian Riffard turut menjadi produser, sementara musik digarap Mélimélo dan penyuntingan ditangani Yoko Sgk.
Film diproduksi Frozen Frogs bersama Blu Corporation. Proses dokumentasinya berlangsung selama beberapa tahun, memungkinkan cerita mengikuti perkembangan perjuangan komunitas dari lapangan hingga munculnya langkah hukum di Eropa.
Durasi dan Perilisan Land Looters
Land Looters memiliki durasi sekitar 75 menit dengan bahasa Prancis sebagai bahasa utama, disertai percakapan dalam bahasa lain sesuai lokasi dokumentasi. Film tercatat sebagai produksi Prancis dan juga dikenal secara internasional dengan judul Land Looters – Pilleurs de Terre.
Perilisan bioskop terbatas di Prancis berlangsung pada 13 Januari 2026. Film kemudian tersedia melalui sejumlah layanan digital internasional, termasuk Apple TV dan beberapa platform VOD, meskipun ketersediaannya dapat berbeda di setiap negara.
Alasan Land Looters Menarik untuk Ditonton
Daya tarik utama Land Looters berada pada kemampuannya menghubungkan persoalan tanah dengan kehidupan manusia secara langsung. Film memperlihatkan bahwa sengketa lahan bukan hanya persoalan kepemilikan di atas dokumen, tetapi dapat menentukan keberlangsungan budaya, sumber penghidupan, dan hubungan sebuah komunitas dengan lingkungan tempat mereka tinggal.
Bagi penonton yang menyukai dokumenter lingkungan, hak masyarakat adat, isu sosial, serta investigasi mengenai hubungan perusahaan dengan komunitas lokal, film ini menawarkan perspektif yang luas tetapi tetap personal. Ikuti perjalanan masyarakat Kamboja dan Kamerun mempertahankan wilayah mereka melalui Nonton Land Looters (2026) hingga akhir.
